Hakikat tujuan Dakwah

Tugas Kelompok:
Iqrimah Sihombing (2130100002) 
Khotimah hasibuan (2130100022) 

                    DOSEN PENGAMPU:
              ZILFARONI, S. Sos.I., M. A


 PRODI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
       FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU                                     KOMUNIKASI
           UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
     SYEKH ALI HASAN AHMAD ADDARY
                  PADANG SIDEMPUAN
                             T. A 2024





KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah Swt. Yang telah melimpahkan berbagai nikmat dan karunia-nya sehingga pemakalah dapat menyelesaikan makalah ini,kemudian shalawat seta salam keharibaan baginda Nabi Muhammad yang telah membawa perubahan besar bagi umat islam, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan menambah wawasan.



           Padangsidimpuan,  15  maret 2023

                                          penyusun




 A. PENDAHULUAN

       Salah satu kekeliruan banyak orang dalam memahami Islam sebagai agama adalah bahwa islam dari awal telah berjalan dengan baik dan berkembang dengan pesat berbagai penjuru dunia, namun pad sisi lain , masih ditemukan ketidak samaan visi dan persepsi umat islamitu dalam memperjuangkan masa depannya. Ketidak samaan visi tersebut sekaligus membawa kepada sikap skeptis, yaitu merasa ragu dan curiga kepada kebenaran hakiki yang terkandung dalam ajarannya.
Antisipasi terhadap kemungkinan adanya sikap skeptis terhadp ajaran islam dan mengetahui arah tujuan dakwah islam serta menjawab berbagai persolan yang muncul dalamislam  , diperlukan adanya  pemikiran yang mendalam dan kembali kepada prinsip-prinsip dakwah yang tertinggal selama ini. Maka pada makalah ini akan dibahas tentang Hakikat Tujuan Dakwah, Meliputi : Filsafat Tujuan , Fungsi Tujuan, Tahap-Tahap Dalam Mendapai Tujuan 

B. PEMBAHASAN

1.  Hakikat Tujuan Dakwah, meliputi :

 Filsafat Tujuan, Fungsi Tujuan, Tahap-tahap Dalam  Mencapai Tujuan
Tujuan Dakwah dan Filsafat tujuan 
Tujuan dakwah sebagai komunikasi adalah memberi informasi tentang agama islam. Tujuian ini bukanlah tujuan final. Perkembangan antar tabligh dan dakwah tidaklah berakhir dengan wafatnya nabi saw. Tabligh dan dakwah itu berlansung terus selama masih berdiri langit dan bumi, untuk menyampaikan informasi mengenai agama islam, agar semua orang memperoleh pengetahuan tentang agama islam dan mengerti tentang islam. Sebagai bukti mengerti tidaknya umat ini dengan islam adalah akan terlihat mereka melakukan kebaikan dan itu sekaligus juga akan mengimbas kepada keluarga dan masyarakat. Untuk hal ini diperlukan dakwah yang tidak ada henti-hentinya. Hal ini dilakukan oleh para ulama dan ilmuan sesuai dengan kemampuaanya. Inilah tujuan pada tahap kewajiban menyampaikan.
Adapun tujuan final dari dakwah itu untuk mencapai keselamatan dan kesentosaan manusia di dunia ini dan di akhirat nanti. Maksudnya ialah memperoleh kebahagian di dalam kehidupan ini dan kehidupan lain dalam dunia yang kekal dan abadi, sesudah kehidupan di dunia ini.
Tujuan dakwah tidak ini identik dengan tujuan ilmu dakwah. Bilamana tujuan dakwah untuk menyampaikan informasi tentang agama islam dan memperkenalkannya kepada semua umat manusia. Maka ilmu dakwah bertujuan melihat alternatif-alternatif yang lebih berdaya guna dalam menyebarkan informasi tersebut. Ilmu berguna untuk mengetahui dan menyediakan jalan, cara-cara untuk pelaksanan alternatif itu. Dengan kata lain ilmu dakwah mempersoalkan metode dan sitem terlibat dalam penelitian tentang proses dakwah serta dalam hal penerapannya dalam kehidupan manusia.
Menurut Syaikh Hasan Al-Banna bahwa tujuan dakwah dibagi kepada dua : pertama tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang.
a.    Tujuan jangka Pendek: partisipasi dalam pengabdian masyarakat dan pelayan sosial. pertama. Perbaikan individu : memperbaiki dirinya sendiri hinga menjadi orang yang kuat fisiknya, kukuh akhlanya, luas wawasannya, mampu berusaha , selamat akidahnya, benar ibadahnya , berjihad melawan dirinya sendiri, disiplin dengan waktunya , teratur dalamurusannya,dan bermanfaat bagi orang lain. Kedua. Membangun keluarga: pembentukan keluarga muslim, yaitu dengan mengkondisikan anggota keluarganya agar menghormati fikrahnya, menjaga etika islam dalamsetiap aktivitas kehidupan rumah tangganya, memilih istri yang baik dan menjelaskan kepadanya hak dan kewajibannya, mendidik anak-anak dan pembantunya dengan didikan yang baik, serta membimbing mereka dengan prinsp-prinsipislam, juga merupakan kewajiban masing-masing kita secara pribadi., ketiga : membimbing Masyarakat : membimbing masyarakat dengan menyebarkan dakwah, memerangi sifat-sifat tercela kemungkaran , mendorong sifat-sifat utama , amar ma’ruf, bersegera mengerjakankebaikan , mengiring opini umum kepada fikrah islamiyah , dan selalu mewarnai praktek kehidupan dengannya, adalah kewajiban yang harus ditunaikan olh setiap kita sebagai pribadi , merupakan kewajiban jamaah sebagai lembaga aktif[4]. 

b.    Tujuan Jangka Panjang: Reformasi dan perubahan total. Adapun tujuan pokok daripada dakwah itu sendiri yang dikehendaki dan diperjuangkan perwujudannya adalah perubahan secara total dan integral , yang unsur kekuatan seluruh umatnya bahu-membahu, memberikan perhatian berusaha melakukan perombakan di berbagai sektor kehidupan secara total berusaha program ini didukung oleh para penguasa . agar negara islam hidup kembali , agar hukumnya tegak kembali , agar berdiri pemerintahan Islam yang didukung sepenuhnya oleh umat islam, yang diatur kehidupannya oleh syariat islam yang Allah perintahkan kepada Nabi-Nya untuk diwujudkan Allah swt berfirman: 
kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui(Al-Jatsiyah : 18). 

a.    Perbaikan pemerintahan dan penegakkan daulah di atas prinsip Islam memperbaiki keadaan pemerintah sehingga menjadi pemerintah islam yang sesungguhnya, dengan memainkan perannya sebagai pelayan umat dan pekerja demi kemaslahatan mereka.bagaimana pemerintah islamitu ? menurut ustad Hasan Al-Banna terdiri dari kaum muslimin yang menunaikan kewajiban-kewajiban islam, tidak terang-terangan berbuat maksiat dan konsisten menerapkan hukum serta ajarn islam. 

b.    Mengembalikan Kekhalifaan (penyatuan Umat Islam): umat islam berkeyakinan bahwa khilafah adalah simbol kesatuan islam dan fenomena ikatan antar bangsa Muslim. Ia merupakan identitas islam yang kaum muslimin harus memikirkannya dan menaruh perhatian untuk merealisasikannya. 

c.     Perwujudan Kepemimpinan: untuk mewujudkan tujuan ini perlunya membebaskan umat. Akan tetapi ingatlah selalu bahwa disana ada dua tujuan pokok yakni agar negara Muslim terbebas dari setiap penjajahan asing dan di negeri yang bebas ini tegak sebuah pemerintahan islam yang merdeka.

d.    Proklamasi Kepemimpinan Dunia.: tentang penyebaran cahaya Islam dan petunjuknya bagi manusia kepada kabajikan dan kebenaran. Dan penegakkan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah islam di seluruh negeri sehingga Allah swt berfirman : 
Sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah belaka (Al-Baqarah : 193)
Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya (At-Ta2.       Filsafat Tujuan
Tujuan filsafat Dakwah adalah dapat memberikan pemahaman yang bersifat universal tentang suatu unit ajaran islam secara mendalam, mendasar dan radikal sampai keakar-akarnya, sehingga akhirnya dapat membawa kepada kebenaran yang hakiki. 
Kebenaran hakiki tersebut terimplementasi dalam sikap kesehariannya sebagai seorang Islam. Lebih jauh bertujuan memberikan kepuasan bagi seseorang yang sekaligus dapat membawa seseorang kepada kebahagian jiwa yang amat berharga. Juga mengantarkan sesorang sampai kepada kepercayaan keagamaan benar yang , yang kalau sebelumnya hanya diterima secara dogmatis dan obsolut, maka pada akhirnya bukan hanya mitologis semata, tetapi juga diterima melalui kerangka fikiran yang rasional dan juga akan memberi arti penting dalam menyadari otoritas dirinya sebagai makhluk yang berdimensi dalam memahami diri dan miliknya.
Pendapat lain juga mengatakan  filsafat tujuan dari dakwah itu untuk mengajar seluruh kemanusiaan kepada sistem islam, membimbing kepada cara hidup Islam , kepada ajaran yang baik, karena tanpa Islam manusia tidak mungkin mendapatkan kebahagian. Tugasi ini bukan tugas juz’iyah, bukan tugas sampingan dan bukan sebahagia-sebahagian, bukan hanya untuk mencapai tujuan-tujuan terbatas dalam aspek politik, sosial, dan ekonomi saja, bukan saja terbatas pada daerah, bangsa tertentu, akan tetapi tugas ini merupakan meliputi segenap sisi kehidupan demi kebaikan seluruh manusia sejagat yang paling sempurna dan bermanfaat. Bukankah Rasululah saw. Diutus untuk membawa rahmat ke seluruh alam.
     Fungsi Tujuan 
Merupakan satu kesatuan antara yang satu dengan yang saling membutuhkan/terkait dan merupakan komponen dakwah . Sebagaiman kalau kita lihat fungsi tujuan dalam proses dakwah merupakan faktor yang paling penting dan sentral dimana tujuan itulah dilandaskan segenap tindakan dalam rangka usaha kerja sama, tujuan adalah merupakan landasan utama , bahkan sesuatu yang senantiasa memberikan inspirasi dan motivasi yang memyebabkan mereka bersedia melakukan tugas-tugas yang diserahkan kepada mereka, begitu pula dalam tindakan-tindakan kontrol dan evaluasi, pendek kata adalah kompas pedoman yang tidak boleh diabaikan dalam proses penyelenggaraan dakwah. 
Prosesing dakwah untuk mencapai dan mewujudkan tujuan utama, sebagaimana telah disampaikan sebelumnya yang mencakup aktivitas yang sangat luas. Segenap segi atau bidang kehidupan tidak ada satupun yang terlepas dari aktivitas dakwah , agar aktivitas/kegiatan dakwah dalam segala segi kehidupan itu dapat dilakukan secara efektif perlulah ditetapkan dan dirumuskan nilai-nilai atau hasil-hasil yang harus dicapai oleh aktivitas dakwah pada masing-masing segi atau bidang itu. Inilah yang disebut sebagai fungsi tujuan.

3. Tahapan-tahapan Dakwah 
Setiap dakwah harus melalui tiga tahap (marhalah), yaitu : 
Tahap penerangan (ta’rif) atau tahap propaganda, memperkenalkan, menggambarkan ide (fikrah) dan menyampaikannya kepada khalayak ramai dan setiap lapisan masyarakat .
Tahap pembinaan dan pembentukan (Takwin) yaitu tahap pembentukan, memilih pendukung, menyiapkan pasukan, mujahid dan mujahidah dakwah serta mendidiknya. Mereka dipilih dari orang-orang yang telah menyambut seruan dakwah.
Tahap pelaksanaan (tanfidz) yaitu tahap beramal, berusaha dan bergerak mencapai tujuan.
Ketiga tahapan tersebut selalu bergandengan dan harus disesuaikan satu sama lainnya, karena kekuatan dan kesatuan dakwah bergantung pada kekompakn seluruh tahap tersebut. Oleh karena itu para pendukung dakwah dalammelancarkan dakwahnya harus memilikh dan membentuk anggota dakwah, dan dalam waktu yang sama dia bergerak melaksanakan apa yang dapat dilaksanakan. Tahapan ini tidak akan terwujud dengan sempurna, kecuali harus mlalui sususnan yang tgertib. Sebab suatu pembentukan misalnya tidak akan berjalan secara sempurna tanpa lebih dahulu malalui tahapan pengenalan dan pemahaman yang baik dan benar. Begitu juga suatu pelaksanan tidak mungkin lengkap dan sempurna tanpa melalui prosestahao pembentukan (pembinaan) dasar pendidikan yang sempurna pula.  
Pengenalan (At-Ta’rif)/ penerangan/ penyebaran ide 
Tahap pengenalan ini sangat mendasar , sebab merupakan langkah awal dalam perjalanan dakwah. Setiap kesalahan atau penyimpangan yang terjadi dalam peringkat pengenalan dan pemahaman ini akan membawa akibat buruk dan menjadikan perjalanan dakwah terpeleset jauh dan garis edarnya. Allah berfirman dalamsurat Al-An’am : 153 artinya:
“Ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jaln itu mencerai-beraikan kamu dari jaln-Nya yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa” (Qs Al-An’am : 153) .
Pada masa Rasulullah saw. Islam telah disempurnakan perkembangan dan penyampaiannya menurut bentuknya yang baik dan benar, bersih dari segala campuran, kekurangan dan penyelewengan. Jibril membawa turun wahyu Allah kepada umat manusia dengan amanah danbenar. Akhirnya islammenjadi sempurna dalambentuk orisinal dan suci.
Walau islam dalam sejarahnya terus menerus dihadapkan kepada berbagai tantangan, tipu daya dan gangguan yang mencoba membutruhkan, menghapuskan dan mencerai-beraikannya dari satu bagian ke bagian yang lain yang dilakukan oleh musuh-musuh islam, atau berupa penyelewengan-penyelewengan dari para ekstrimis-ektrimis dari kalangan kaum mmuslimin sendiri. Namun Allah tetap memelihat kitab (Al-quran) dan menjaminnya dengan pasti. Disamping itu banyak sekali ulama-ulama yang menulis mengumpulkan hadis-hadis Rasulullah saw. Yang menulis dan menepisnya dari segala macam pemalsuan. Maka Ta’rif yang merupakan salah satu tahapan dakwah yang menjadi sasaran adalah Totalitas dakwah dan menjadi seorang Dai yang  berpegang pada uslub dakwah. 

a.Totalitas Dakwah
Ketika menyampaikan Dakwah dan peringatan, kita harus mengemukakan keuniversalan islam dengan lengkap, utuh, total dan menyeluruh tanpa memisah-misahkan antara satu bagian dengan bagian lainnya, atau menghapuskan satu bagian dari keseluruhannya, sebab islama dalah penutup segala agama.Islam adalah agama yang istimewa, universal, lengkap, sempurna dan mencakup seluruh persoalan hidup manusia duniawi dan ukhrawi dalam keselarasan dan keharmonisan yang unik. 

b. Da’i dan uslub Dakwah
Untuk mewujudkan cita-cita dalam memperkenalkan dan mengembangkan dakwah, seorang dai harus memiliki sifat-sifat asasi dan ia harus berpegang pada uslub atau cara yang benar dan baik dalam melaksanakan dakwahnya.Diantara sifat utama dan asasi bagi seseorang pendakwah ialah harus menjadi contoh, teladan dan model yang baik bagi islam yang didakwahkannya. Dia harus melaksanakan semua rukun islam, mengikuti sunnah dan cara hidup Rasulullah saw, menjahui segala macam subhat dan yang meragukan, menjahui segala yang haram, senantiasa mengingat Allah dalam suatu persoalan kecil atau besar. Dalam rumah tangganya, semua anggota keluarganya harus turut komitmen dengan seluruh ajaran islam dan menjaga serta melaksanankan ajaran islam dan tatakaramnya. 
Dan  salah satu faktot terpenting didalam dakwah adalah keikhlasan dan kebulatan tekad seseorang dai semata-mata karena Allah dan dakwah Allah, seorang muslim yang bergerak di bidang dakwah harus mempunyai bacaan luas, mengikuti segala macam peristiwa dan pergolakan yang terjadi, mmengikuti perkembangan kondisi dan situasi, dan mengetahui berbagai aliran dan ideolagi modern. Dan juga seorang dai harus memahami tingkat dan kedudukan mad’u (orang yang diseru) berbicara dengan mereka sesuai dengan tingkat kecerdasannya, karena dengan itu akan memudahkan mereka untuk menyambut apa yang diserukannya dan mereka tidak bosan mendengar ucapan seorang da’i

2. Tahap (Takwin) Pembentukan dan Pembinaan
Tahap penerangan dan proganda atau tahap perkenalan ide, jika tidak diiringi dengan tahap pembentukan dan pembinaan (takwin) atau pemilihan pendukung dan pembela seperti gologan Ansar dan Hawariyun, dan mempersiapkan pasukan atau laskar serta mengatur taktik barisan dari kalangan orang-orang yang diseru (mad’u), kemungkinan akan menjadikan segala usaha yang telah dikorbankan pada tahap penerangan dan pengenalan ide dakwah akan menjadi sia-sia, bahkan akan hilang tanpa bekas.
Banyak dikalangan kaum muslimin yang diseru sekarang ini akan dilahirkan dan dibesarkan dalam suatu masyarakat yang jauh dari jiwa Islam, menjadikan suatu masyarakat yang akan dikuasi oleh adt istiadat dan tradisi yang telah hancur , yang telah meresap dan bersatu dalam diri dan kehidupan mereka. Jadi bagi seorang da’I yang menyeru manusia kejalanAllah, memanggil manusia untuk hidup secara islami, harus memperhatikan dengan serius dan bereusaha sunguh-sunguh dalam membersihkan diri mereka dari segala tradisi Islam yang suci, akhlak Islam dan membentuk hidup manusia menurut karakter Islam , serta mengembalikan kehidupan mereka menurut cara-cara kehidupan yang islami.

a.        Individu Muslim yang dikehendaki
Umat islam dewasa ini jumlahnya banyak, tetapi kualitasnya sangat rendah dibanding dengan kualitas umat Islam generasi pertama di zaman Rasulullah saw. Umat Islam dewasa ini tidak mampu mengubah bentuk dan suasana yang telah rusak. Oleh karena itu mereka tidak mampu membangun dan mendirikan daulah Islamiyah. Kualitas manusia muslim sekarang tidak mampu menghapus kebathilan dan mewujudkan kebenaran melainkan dengan pertolongan Allah swt.sebagaimana dalam surat Ar-Ra’du: 17:
“Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi ) yang benar dan yang bathil. Ada pun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya ada pun yang memberi manfaat kepada manusia maka ia tetap di bumi demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan” (Qs. Ar-Ra’du 17).
Mempersiapkan seorang kader yang ideal dalam mutu, kualitas dan penampilannya memrlukan usaha-usaha yang serius, tekun dan kontiniu, penuh kesabaran dan ketabahan yang utuh. Umat Islam demikianlah yang sangup dan mampu membangun rumah tangga. Oleh karena itu Imam Syahid Hasan Al-Banna telah memberiakan perhatian sewajarnya kepada individu muslim dan berusaha mempersiapkannya. Langkah-langkah ini jelas mengikuti sunnah Rasulullah saw. Yang telah mempersiapkan angkatan mukmin pertama yang dikader dalam madrasah Rasullullah saw. Sebagai cikal bakal angkatan mukmin yang dapat membangun Daulah Islamiyah yang kuat, teguh dan agung.

b.      Ciri utama seorang Da’i 
Seorang da’i  harus memiliki tingkat pemahaman yang tinggi terhadap agamanya, pemahamanya yang menyeluruh, lengkap dan orisinil terhadap kitabullah dan sunnahturrasul. Dan ia harus memiliki keikhlasan yang besar untuk menjadi laskar dakwah, aqidah dan ideologi, bukan laskar yang mengejar keuntungan dan tujuan dari materi semata-mata, dan bukan pula angkatan yang semata-mata mengejar kepentingan diri sendiri. Ia akan mengutamakan kerja dari pada berbicara. Apa yang dikatakannya itulah yang ia kerjakan setelah lebih dahulu mengenal secara pasti jalannya dan mengikhlaskan niatnya karena Allah semata-mata.

c.       Perkataan, perbuatan dan amal
Ada pula orang yang hanya berbicara, tetapi ia bukan seorang pekerja, dan pemimpin kerja, bukanpula sebagai seorang dai, dan seorang dai saja bukan berarti  ia sebagai dai yang bijaksana serta mampu menelurkan kemenangan dengan pengorbanan sedikit.Ini sesuai apa yang dikatakan dan dijelaskan oleh Imam syahid Hasan Al-Banna : “sesungguhnya banyak orang yang mampu berkata, tetapi sedikit dari mereka yang mampu bertahan dalam beramal dan bekerja. Banyak pula dari sedikit itu yang mampu bertahan pada waktu beramal, tetapi sedikit dianatara mereka yang mampu memikul beban dakwah yang berat dan sukar. Para dai inilah meruapakan angkatan pilihan yang sedikit jumlahnya, tetapi menjadi pembela dan menjadi ansarullah.

d.  Tahap Pelaksanaan (tanfidz) 
Pada tahap ini seorang kader dakwah sudah mampu melakswanakan dan mengamalkan nilai-nilai islam secara total. Dakwah dalam tahapan ini adalah jihad, tanpa kenal sikap plin-plan, kerja terus-menerus untuk mengapai tujuan akhir, dan kesiapan dalam menanggung cobaan dan ujian yang tidak mungkin bersabar atasnya kecuali orang-orang yang  tulus.Menurut Syaikh Hasan al-Banna menyebutkan bahwa dakwah ini terdiri dari bebrapa tahap, yakni : ta’rif, Takwin, 
dan tanfidz. Dengan inilah kita mengantarkan umat islamdari satu tahap ke tahapan lain dari satu kondisi ke kondisi lain, sehingga dapat mengantarkan mereka ke tujuan.
Konsep-Konsep Dakwah

Dakwah merupakan usaha mewujudkan masyarakat yang menjujung
tinggi kehidupan beragama dengan merealisasikan ajaran islam secara penuh dan
menyeluruh.[1] Dalam rangka mewujudkan tipologi masyarakat tersebut dakwah
mengembangkan empat konsep dakwah yang sekaligus menjadi gagasan pokok
dalam dakwah. Empat konsep tersebut mencakup yad’una ila al-khair berarti,
Amr ma’ruf, Nahyul munkar, dan Taghyirul munkar.
Hakikat Dakwah Islam
Berdasarkan apa yang telah dijabarkan diatas ada tiga hal yang disebutsebagai hakikat dakwah islamiah. yaitu bahwa dakwah itu adalah merupakansebuah kebebasan, rasionalitas, dan universal. Hakikat dakwah islam dapat dirincidan kemurahan Allah dengan memberi maaf atas segala kesalahan mereka.Gambaran seperti itulah yang kemudian menjadi idealisma. Dengan demikian,dakwah berusaha mewujudkan sikap beragama yang benar bagi masyarakat.
Dari keterangan ini, dieperoleh ketegasan bahwa dakwah pada hakekatnyamerupakan kendaraan untuk menyampaikan pesan agama, melingkupi seluruhaspek kehidupan manusia dan mengonsolidasikannya dalam format kehidupanyang bermoral-kemanusiaan.

1. Kebebasan
Melihat dari pengertian dakwah yaitu mengajak dan menyeru padaagama islam serta kebaikan. Maka, sangat diperhatikan bahwa dakwah tidakmenuntut atau mengancam. Dakwah islam hakikatnya membebaskan umatmanusia untuk menilai dengan pemikirannya sendiri tentang sebuah kebenaranyang disampaikan padanya. Tidak dengan ancaman atau tindak kekerasan, tapidengan kelemah lembutan dan sopan santun yang membuat umat menjadi simpati terhadap agama islam karna hati mereka sendiri.

2. Rasionalitas
Manusia diciptakan Allah swt dengan kelebihan yang membedakannya
dengan makhluk lainnya yaitu dengan diberikan akal yang dapat digunakan untuk
berfikir. Dakwah islam sendiri merupakan ajaran untuk berfikir, berdebat dan
berargumen. Dimasa ini dakwa islam tidak bisa jika hanya disampaikan begitu
saja tanpa ada argumen yang rasional. Karna semakin berkembang zaman
manusia semakin kritis dalam menerima informasi.

3. Universal
Ajaran agama islam tidak hanya berfokus pada umat islam. Tapi, jugamenyebarkan kebaikan bagi umat manusia secara menyeluruh. Tidak memandangras, suku atau perbedaan lainnya. Beberapa bentuk ajaran islam yang universal yaitu etika, moral, tauhid, sosial, politik, ekonomi, dll.

HADIS-HADIS TENTANG TUJUAN DAKWAH

Dakwah merupakan usaha mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna menurut ajaran Islam baik terhadap pribadi maupun masyarakat. Dengan kalimat lain dakwah merupakan usaha orang beriman untuk mewujudkan Islam dalam segi kehidupan baik terhadap individu, keluarga, masyarakat. Dakwah merupakan aktualisasi iman dan kewajiban serta tugas suci setiap muslim sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas masing-masing sebagai perwujudan Islam rahmatan lil alamin.Melalui penelusuran literatur yang berkaitan tentang dakwah, tulisan ini membahas hakikat dan tujuan dakwah Islam.

Sedangkan makna dari metode dakwah itu sendiri adalah sebagai berikut: 
a. Seni berdakwah yaitu cara atau rujukan, yang mana seorang da’i di jalan Allah akan kembali kepadanya untuk mewujudkan tujuan dakwahnya. Dari ini dapat dikatakan bahwa metode dakwah adalah cara sukses yang dapat mempengaruhi dan sesuai dengan keadaan objek dakwah.
 b. Metode dakwah adalah jalan atau cara untuk mencapai tujuan dakwah yang dilaksanakan secara efektif dan efisien.
 c. Metode dakwah adalah cara-cara yang dilakukan oleh seorang muballigh/da’i (komunikator) untuk mencapai suatu tujuan tertentu atas dasar hikmah dan kasih sayang. Dengan kata lain, pendekatan dakwah harus bertumpu pada suatu pandangan human oriented menempatkan penghargaan yang mulia atas diri manusia.
 Sejalan dengan pengertian di atas maka metode atau cara yang dilakukan dalam mengajak tersebut haruslah sesuai pula dengan materi dan tujuan kemana ajakan ditujukan.
 Pemakaian metode atau cara yang benar merupakan sebahagian dari keberhasilan dari dakwah itu sendiri. Sebaliknya bila metode dan cara yang dipergunakan dalam menyampaikan sesuatu tidak sesuai dan tidak pas, akan mengakibatkan hal yang tidak diharapkan. 
Metode dakwah adalah jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan dakwah. Hal ini diperjelas oleh Muh. Ali Aziz yang juga menjelaskan metode dakwah sebagai cara yang dilakukan untuk berdakwah menyampaikan ajaran materi Islam. Dari penjelasan di atas sangat jelas bahwa metode dakwah adalah suatu cara yang dipilih oleh da’i untuk menyampaikan pesan – pesan dakwahnya kepada mad’u. Secara terperinci metode dakwah dalam Al-Quran terekam pada QS. An-Nahl ayat 105. 
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Artinya; Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Dari ayat tersebut, terlukis bahwa ada tiga metode yang menjadi dasar dakwah yaitu: 
Hikmah: yaitu dakwah dengan memperhatikan situasi dan kondisi sasaran dakwah dengan menitik beratkan pada kemampuan mereka, sehingga di dalam menjalankan ajaran ajaran Islam selanjutnya mereka tidak lagi merasa terpaksa atau keberatan.
Mauidzah hasanah: adalah berdakwah dengan memberikan nasihat nasihat atau menyampaikan ajaran Islam dengan rasa kasih sayang, sehingga nasihat dan ajaran Islam yang disampaikan itu dapat menyentuh hati mereka.
Mujadalah: yaitu berdakwah dengan cara bertukar pikiran dan membantah dengan cara sebaik – baiknya dengan tidak memberikan tekanan – tekanan dan tidak pula dengan menjelekkan yang menjadi mitra dakwah.
Televisi sebagai Media Dakwah
Pengertian Media dakwah, Kata media merupakan jamak dari bahasa latin yaitu medion, yang secara etimologi berarti alat perantara. Sedangkan secara istilah media berarti segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa media dapat berarti segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan dakwah yang telah ditentukan.
 Secara lebih spesifik, yang dimaksud dengan media adalah alat-alat fisik yang menjelaskan isi pesan atau pengajaran, seperti buku, film, video kaset, slide, dan sebagainya. Adapun yang dimaksud dengan media dakwah, adalah peralatan yang dipergunakan untuk menyampaikan materi dakwah kepada penerima dakwah.
 Dr. Awaludin Pimay, Lc. M.Ag menulis bahwa media dakwah adalah sarana yang digunakan oleh da’i atau juru dakwah untuk menyampaikan materi dakwah. Pada masa kehidupan Nabi Muhammad Saw, media yang paling banyak digunakan adalah media auditif, yakni menyampaikan dakwah dengan lisan.
Namun tidak boleh dilupakan bahwa sikap dan perilaku Nabi juga merupakan media dakwah secara visual yaitu dapat dilihat dan ditiru oleh objek dakwah. Sedangkan jika kita hubungkan perangkat (media) dengan dakwah, maka kita bisa mengatakan bahwa perangkat (media) dakwah adalah cara yang terikat dengan syari’at, yang sampai kepada Allah. Adapun dikatakan berhubungan dengan syari’at, karena perangkat yang tidak berhubungan dengannya tidak dikatakan perangkat dakwah, karena untuk mencapai tujuan tidak dihalalkan segala cara. 
Seorang da’i dalam menyampaikan ajaran agama Islam kepada umat manusia tidak akan lepas dari sarana atau media (wasilah) dakwah. Kepandaian untuk memilih media dakwah yang tepat merupakan salah satu unsur keberhasilan dakwah. Terlebih dalam mengantisipasi perkembangan zaman yang saat ini dimana ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat yang ditandai dengan kemajuan dan kecanggihan tehnologi.
Ketertinggalan umat Islam dan ketertutupan dari dunia luar, sedikit banyak menjadi salah satu penyebab ketidakberhasilan dakwah. Adapun yang jadi masalah disini adalah masalah memilih. Memilih tentu saja mengandung konsekuensi mengetahui dan menguasai cara memanfaatkan potensi yang dipilihnya. Tidak hanya memilih untuk disimpan atau dibiarkan saja. Karena sekarang adalah era globalisasi informasi, artinya di era tersebut terjadi penghilangan batas ruang dan waktu dari hasil perkembangan tehnologi komunikasi.
Berkaitan dengan media dakwah, di era kompetisi ini sudah saatnya para da’i, untuk dapat benar-benar memanfaatkan adanya tehnologi globalisasi yang semakin kesana semakin terus berkembang, diantaranya dengan memanfaatkan media modern seperti media elektronik dan media cetak dan bahkan media yang bersifat on-line. Televisi sebagai media dakwah Islam sangat penting perannya, karena televisi adalah media yang paling sering digunakan baik masyarakat kota ataupun desa.
Pengertian Televisi,  Melihat perkembangan teknologi informasi yang sedemikian pesat dewasa ini, dunia kini dirasakan semakin sempit, karena dalam berbagai saat saja kita dapat berhubungan dengan orang lain yang berada di belahan bumi yang lain, sehingga rasanya kita berada di dalam satu tempat, dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi yang sedemikian canggih. Akibat perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat ini mengakibatkan semakin majunya media massa, salah satunya adalah media televisi. Televisi adalah sistem elektronik untuk memancarkan gambar bergerak (moving images) dan suara kepada recievers. Sejak tahun 1930 mulai penyiaran televisi menemani radio, dan secara aktif siaran televisi dimulai 1974. 
Kata televisi merupakan gabungan dari kata tele (jauh) dari bahasa Yunani dan visio (penglihatan) dari bahasa Latin, sehingga televisi dapat diartikan sebagai alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan media visual / penglihatan.
Jadi televisi merupakan sistem elektronik yang mengirimkan gambar diam dan gambar hidup bersama suara melalui kabel dan ruang. Sistem ini menggunakan peralatan yang mengubah cahaya dan suara ke dalam gelombang elektrik dan mengkonfersikannya kembali ke dalam cahaya dan suara yang dapat dilihat dan didengar. 
Televisi memberikan pengaruh sosial terhadap masyarakat, baik terhadap anak-anak maupun orang dewasa. Akan tetapi kemajuan mereka dalam hal pembicaraan tentang kebudayaan, menambah perbendaharaan bahasa dan menyebabkan berkurangnya minat mereka dalam membaca surat kabar atau majalah. 
Stasiun televisi merupakan lembaga penyiaran atau tempat berkerja yang melibatkan banyak orang, dan yang mempunyai kemampuan atau keahlian dalam bidang penyiaran yang berupaya menghasilkan siaran atau karya yang baik. 
Televisi Sebagai Media Dakwah, Media komunikasi massa khususnya televisi, berperan besar dalam hal interaksi budaya antar bangsa, salah satunya nya sebagai media dakwah, karena dengan sistem penyiaran yang ada sekarang ini wilayah jangkauan siarannya tidak terbatas lagi. Meskipun demikian, bagaimana pun juga televisi hanya berperan sebagai media, bukan merupakan tujuan kebijakan komunikasi di Indonesia. 
Oleh karena itu dalam perannya sebagai media informasi, televisi juga berfungsi sebagai alat media dakwah. Sebagai alat media dakwah, televisi dalam pesan komunikasinya terhadap kondisi sosial budaya suatu bangsa, meliputi:
Memperkokoh pola-pola sosial budaya yaitu, upaya menumbuhkan aspirasi masyarakat harus diupayakan secara tepat dan selalu diupayakan dapat tercermin dalam pesan komunikasinya. Sebab, jika tanpa aspirasi yang meningkat atau yang merangsang masyarakat agar bekerja keras, untuk dapat menjamin kehidupan yang lebih baik, pembangunan akan sulit diwujudkan.
Dalam hubungan pola sosial budaya peranan televisi sebagai alat media dakwah, seperti berikut: 
a) Menyampaikan informasi kepada masyarakat aktif dalam pelaksanaan pembangunan nasional. 
b) Pemberian kesempatan kepada masyarakat secara aktif dalam pelaksanaan pembangunan nasional dengan melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan.
c) Pertumbuhan tingkat kecerdasan masyarakat yang dilakukan secara persuasif dengan pendekatan kultural.
Melakukan adaptasi terhadap kebudayaan Karena keheterogenan masyarakat pemirsa, timbul kesulitan tersendiri dalam upaya menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai budi pekerti yang luhur dalam masyarakat. Hal ini karena sebagian masyarakat kita masih sulit untuk meninggalkan sikap ketradisionalannya dan mengganti dengan sikap yang rasional, sehingga akan melemahkan adaptasi masyarakat. Ketidakmampuan beradaptasi, akan berpengaruh terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Kemampuan mengubah norma-norma sosial budaya bangsa. Pengaruh sistem televisi tidak bisa disangsikan lagi, khususnya dalam menumbuhkan norma-norma budaya baru, sehingga masyarakat bisa dipengaruhi, dan lambat laun norma-norma masyarakat yang sudah berlaku akan terdesak. Karena itulah maka bukan saja negara-negara yang sedang berkembang yang selalu khawatir akan dampak yang ditimbulkannya melainkan negara yang sudah maju pun merasakannya. Televisi sebagai media dakwah dipandang sangat perlu karena efektif dan efisien untuk memberikan pendidikan, informasi, dan hiburan serta muatan keagamaan. Hal ini merupakan harapan banyak orang untuk dapat mengetahui hal-hal yang dapat di manfaatkan dan di gunakan oleh masyarakat sebagai kebutuhan hidup yang lebih baik.
TUJUAN DAKWAH
Tujuan utama dakwah adalah mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat yang diridhai oleh Allah SWT. Yakni dengan menyampaikan nilai-nilai yang dapat mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan yang diridhai Allah SWT sesuai dengan segi atau bidangnya masing-masing. 
Setelah diangkat menjadi rasul Allah SWT, Rasulullah SAW melakukan dakwah Islam baik secara lisan, tulisan maupun perbuatan.  Beliau memulai dakwahnya kepada istrinya, keluarganya dan sahabat karibnya. Awalnya dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi, karena situasi tak memungkinkan. Namun, setelah jumlah sahabat yang memeluk Islam bertambah banyak, dakwah  pun mulai dilakukan secara terang-terangan.
عن أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من رأى منكم منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان
وفي رواية : ليس وراء ذلك من الإيمان حبة خردل
Dari Abu Sa’id Al Khudry -radhiyallahu ‘anhu- berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)
Tujuan dakwah menurut Masyhur Amin, dibagi menjadi dua bagian yakni tujuan dari segi obyeknya dan tujuan dari segi materinya.
 a. Tujuan dakwah dari segi obyeknya
 1) Tujuan perorangan, yaitu terbentuknya pribadi muslim yang mempunyai iman yang kuat, perilaku sesuai dengan hukum-hukum yang disyari‟atkan Allah SWT dan berakhlak karimah. 
2) Tujuan untuk keluarga, yakni terbentuknya keluarga bahagia penuh ketentraman dan cinta kasih antara anggota keluarga. 
3) Tujuan untuk masyarakat, yaitu terbentuknya masyarakat yang sejahtera yang penuh dengan suasana ke-Islaman.
 4) Tujuan untuk seluruh umat manusia, yaitu terbentuknya masyarakat dunia yang penuh dengan kedamaian dan ketenangan.
b. Tujuan dakwah dari segi materinya
1. Tujuan akidah, yaitu tentramnya suatu akidah yang mantap di setiap hati seseorang, sehingga keyakinankeyakinan tentang ajaran-ajaran Islam tidak lagi dicampuri dengan keraguan.
2. Tujuan hukum, yaitu kepatuhan setiap orang kepada hukum-hukum yang disyari‟atkan oleh Allah SWT.
3. Tujuan akhlak, yaitu terbentuknya muslim yang berbudi luhur dihiasi dengan sifat sifat yang terpuji dan bersih dari sifat yang tercela
Kesimpulan 
Dakwah adalah usaha peningkatan pemahaman keagamaan yang mengubah pandangan hidup, sikap batin dan prilaku umat yang tidak sesuai dengan ajaran islam menjadi sesuai dengan tuntuna syari’at untuk memperoleh kebahagian hidup di dunia dan akhirat.
Tujuan dakwah adalah membentuk pribadi muslim yang mempunyai iman yang kuat terbentuknya ketentraman dalam kehidupan dan kasih sayang sesama keluarga dan juga umat muslim. Kepatuhan terhadap hukum – hukum yang di syari’atkan oleh Allah SWT, hingga terwujud nya kesejahteraan dan ketaatan


                       DAFTAR PUSTAKA
Zilfaroni, hakikat tujuan dakwah, https. www..zilfaroni.web.ide/ Desember 19, 2022 
     Ismail, Ilyas dan Hotman, Prio. 2011. Filsafat Dakwah, Rekayasa Membangun Agama dan
       Peradaban Islam. Prenada Media Group. Jakarta.
Hariyanto, Muhsin.2016. Filsafat Dakwah. FAI – UMY. Yogyakarta. 
       Supena, Ilyas. 2013. Filsafat Ilmu Dakwah. Penerbit Ombak. Yogyakarta.
Palita
(1) zilfaroni, hakikat tujuan dakwah https. www..zilfaroni.web.id/19 Desember, 2022

(2) Ilyas Supena, Filsafat Ilmu Dakwah, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013) hlm. 104

  (3) Ilyas Ismail dan Prio Hotman, Filsafat Dakwah, Rekayasa Membangun Agama dan  Peradaban Islam,( Jakarta: Prenada Media Group, 2011), hlm. 27-38
[3] Ilyas Ismail dan Prio Hotman, Filsafat Dakwah, Rekayasa Membangun Agama 

 (4) Amin mashur 1997,dakwah islam dan pesan moral, (yogyakarta 2012) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA